Beranda | Artikel
Sikap Pertengahan dan Moderat dalam Syariat Islam (Bag. 2)
8 jam lalu

Salah satu karakter paling menonjol dari syariat Islam adalah prinsip wasathiyyah (pertengahan) dalam pelaksanaan ibadah dan ketaatan kepada Allah. Orang yang mencermati dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunah, baik berupa perkataan maupun perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan menemukan bahwa keduanya sarat dengan tuntunan untuk bersikap seimbang dalam beribadah. Prinsip wasathiyyah dalam ibadah ini tampak dalam berbagai aspek, di antaranya sebagai berikut.

Wasathiyyah dan keseimbangan dalam melaksanakan ibadah

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa tiga orang datang ke rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menanyakan tentang ibadah beliau. Setelah mereka diberitahu mengenai amalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menganggap bahwa amalan mereka sedikit. Mereka berkata, “Bagaimana mungkin kita menyamakan diri dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan Allah telah mengampuni dosa beliau yang telah lalu maupun yang akan datang?”

Salah seorang dari mereka berkata, “Aku akan melaksanakan salat malam sepanjang hidupku tanpa henti.” Yang lain berkata, “Aku akan berpuasa sepanjang tahun dan tidak akan berbuka.” Adapun yang ketiga berkata, “Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selamanya.”

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui (mendengar) hal tersebut, beliau bersabda,

أَنْتُمْ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا؟ أَمَا واللهِ إِنِّي لأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

“Apakah kalian yang mengatakan demikian? Demi Allah, sungguh aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya di antara kalian. Akan tetapi, aku berpuasa dan berbuka, aku melaksanakan salat malam dan juga beristirahat (tidur), serta aku menikahi wanita. Maka barang siapa yang membenci sunahku, ia bukan termasuk golonganku.” (Muttafaqun ‘alaih)

Hadis ini menunjukkan bahwa kesempurnaan ibadah tidak diukur dari banyaknya amalan yang dilakukan secara berlebihan, tetapi dari kesesuaiannya dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Meskipun beliau adalah manusia yang paling bertakwa kepada Allah, beliau tetap menjaga keseimbangan antara ibadah, pemenuhan kebutuhan diri, istirahat, dan kehidupan keluarga. Oleh karena itu, Islam melarang sikap ghuluw (berlebihan) dalam beribadah yang dapat memberatkan diri sendiri atau menyelisihi sunah.

Dengan demikian, wasathiyyah dalam ibadah berarti melaksanakan berbagai bentuk ketaatan secara proporsional sesuai tuntunan syariat, tanpa mengurangi hak Allah maupun mengabaikan hak diri sendiri, keluarga, dan orang lain. Inilah jalan pertengahan yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjadi ciri khas syariat Islam yang mudah, seimbang, serta sesuai dengan fitrah manusia.

Dorongan yang membuat para sahabat tersebut ingin memperbanyak amal saleh adalah anggapan bahwa Allah Ta’ala telah mengampuni seluruh dosa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik yang telah lalu maupun yang akan datang. Sementara itu, mereka merasa amal ibadah mereka masih sedikit. Oleh karena itu, mereka berusaha memperberat diri dalam beribadah dengan harapan dapat mencapai derajat yang sama dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, niat baik tersebut justru membawa mereka keluar dari jalan sunah dan menyimpang dari prinsip wasathiyyah serta keseimbangan dalam beribadah.

Oleh karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meluruskan pemahaman mereka dengan sabdanya,

أَمَا واللهِ إِنِّي لأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ

“Demi Allah, sungguh aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya di antara kalian.”

Menjelaskan hadis ini, Ibnu Hajar Al-‘Asqalani rahimahullah berkata,

فيه إشارةٌ إلى ردِّ ما بَنَوا عليه أمرَهم من أنَّ المغفور له لا يحتاج إلى مزيدٍ في العبادة، بخلاف غيره، فأعْلَمَهم أنه مع كونه يُبالغ في التشديد في العبادة أخشى لله، وأتقى من الذين يُشَدِّدون، وإنما كان كذلك؛ لأنَّ المُشدِّد لا يأمن من المَلَل، بخلاف المُقتصد، فإنه أمكن لاستمراره، وخيرُ العملِ ما داوم عليه صاحبُه

“Di dalamnya terdapat isyarat untuk membantah dasar pemikiran yang mereka jadikan pegangan dalam urusan mereka, yaitu bahwa orang yang telah mendapatkan ampunan tidak membutuhkan tambahan dalam ibadah, berbeda dengan orang yang belum mendapatkannya. Maka, beliau menjelaskan kepada mereka bahwa meskipun beliau sangat bersungguh-sungguh dan berlebihan dalam ibadah, beliau adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa dibandingkan orang-orang yang berlebihan dalam beribadah. Hal demikian itu karena orang yang berlebihan dalam ibadah tidak merasa aman dari kejenuhan dan kebosanan, berbeda dengan orang yang mengambil jalan pertengahan (tidak berlebihan), karena cara tersebut lebih memungkinkan untuk dilakukan secara terus-menerus. Dan sebaik-baik amal adalah amal yang dilakukan secara konsisten oleh pelakunya.”

Senada dengan itu, Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

والأحاديث الموافقة لهذا كثيرة، في بيان أنَّ سُنَّته؛ التي هي الاقتصاد في العبادة، وفي ترك الشهوات، خيرٌ من رهبانية النصارى؛ التي هي ترك عامة الشهوات من النكاح وغيره، والغلوِ في العبادات صوماً وصلاةً، وقد خالف هذا؛ بالتأويل، ولعدمِ العلم طائفةٌ من الفقهاء والعُبَّاد

“Hadis-hadis yang semakna dengan ini sangatlah banyak. Semuanya menjelaskan bahwa sunah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu bersikap pertengahan dalam beribadah dan dalam meninggalkan syahwat, itu lebih baik daripada kerahiban kaum Nasrani, yang berupa meninggalkan berbagai macam syahwat, seperti menikah dan yang lainnya, serta berlebih-lebihan dalam ibadah, seperti puasa dan salat. Namun, pemahaman ini telah diselisihi oleh sebagian fuqaha dan ahli ibadah, baik karena mereka melakukan takwil maupun karena ketidaktahuan.”

Penjelasan para ulama tersebut menunjukkan bahwa wasathiyyah dalam ibadah bukan berarti mengurangi semangat beramal, tetapi menempatkan ibadah sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seorang muslim dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh, namun tetap menjaga keseimbangan, tidak membebani diri dengan sesuatu yang melampaui batas, sehingga ibadah dapat dilakukan secara istikamah sepanjang hidupnya.

Wasathiyyah dalam penerapan ibadah dan larangan bersikap berlebihan dalam agama

Prinsip wasathiyyah dalam ibadah tidak hanya tampak pada keseimbangan dalam memperbanyak amal, tetapi juga dalam cara menerapkan ibadah sesuai dengan tuntunan syariat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tegas memperingatkan umatnya agar menjauhi sikap ghuluw (berlebihan) dalam agama, karena sikap tersebut merupakan salah satu penyebab kebinasaan umat-umat terdahulu.

Di antara dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Beliau menceritakan bahwa pada pagi hari di Mina, ketika akan melaksanakan lempar jumrah Aqabah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Ambilkan untukku beberapa batu kerikil.” Ibnu Abbas kemudian mengambil tujuh butir kerikil kecil sebesar batu untuk melempar dengan jari. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggenggam kerikil tersebut seraya bersabda,

أَمْثَالَ هَؤُلاءِ فَارْمُوا

“Lemparlah dengan batu-batu seperti ini.”

Kemudian beliau bersabda,

يا أَيُّهَا الناسُ! إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ في الدِّينِ؛ فإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَاَن قَبْلَكُمْ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ

“Wahai manusia, jauhilah sikap berlebihan dalam agama, karena sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah sikap berlebihan dalam agama.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, dan Ibnu Majah; disahihkan oleh Al-Albani)

Menjelaskan hadis ini, Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan bahwa larangan tersebut bersifat umum dan mencakup seluruh bentuk ghuluw, baik dalam masalah akidah maupun amal ibadah. Ghuluw adalah melampaui batas yang telah ditetapkan syariat, seperti berlebihan dalam memuji atau mencela sesuatu melebihi kadar yang semestinya. Meskipun hadis ini disampaikan dalam konteks melempar jumrah, hukumnya tidak terbatas pada ibadah tersebut. Misalnya, seseorang tidak diperbolehkan melempar jumrah dengan batu-batu besar dengan alasan ingin lebih sempurna dalam beribadah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam justru mencontohkan penggunaan kerikil kecil sebagai bentuk mengikuti tuntunan syariat. Ibnu Taimiyah juga menjelaskan bahwa kebinasaan umat-umat terdahulu, terutama kaum Nasrani, disebabkan oleh sikap berlebihan dalam beragama. Oleh karena itu, menjauhi jalan mereka merupakan cara untuk menjaga diri dari penyimpangan yang sama.

Dalil lainnya adalah hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Beliau menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seutas tali yang dibentangkan di antara dua tiang masjid. Ketika beliau bertanya tentang tali tersebut, para sahabat menjawab bahwa tali itu milik Zainab. Apabila beliau merasa lelah ketika salat malam, beliau berpegangan pada tali tersebut agar tetap dapat berdiri. Mendengar hal itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ، حُلُّوهُ لِيُصَلِّ أحَدُكُمْ نَشَاطَهُ، فإذا فَتَرَ فَلْيَقْعُدْ

“Lepaskan tali itu. Hendaklah salah seorang di antara kalian melaksanakan salat selama ia masih bersemangat. Apabila rasa lelah datang, hendaklah ia duduk (atau berhenti).” (Muttafaqun ‘alaih)

An-Nawawi rahimahullah berkata ketika menjelaskan hadis ini,

فيه الحث على الاقتصاد في العبادة، والنهي عن التَّعمُّق، والأمر بالإقبال عليها بنشاط، وأنه إذا فَتَر فليقعد حتى يذهب الفتور

“Di dalamnya terdapat anjuran untuk bersikap pertengahan dalam beribadah, larangan untuk berlebih-lebihan atau terlalu mendalam dalam ibadah, serta perintah untuk melaksanakan ibadah dengan penuh semangat. Apabila seseorang merasa lelah atau semangatnya menurun, hendaknya ia berhenti sejenak (duduk/beristirahat) hingga rasa lelah dan futur tersebut hilang.”

Kedua hadis tersebut menunjukkan bahwa syariat Islam menghendaki ibadah yang dilakukan secara benar, seimbang, dan berkesinambungan. Seorang muslim tidak diperintahkan untuk memberatkan dirinya dengan berbagai bentuk ibadah yang melampaui tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebaliknya, ia diperintahkan mengikuti sunah beliau, karena jalan pertengahan itulah yang paling dekat kepada ketakwaan dan paling memungkinkan untuk menjaga keistikamahan dalam beribadah sepanjang hayat.

Wasathiyyah dalam tempat pelaksanaan ibadah

Prinsip wasathiyyah dalam syariat Islam juga tercermin dalam ketentuan mengenai tempat pelaksanaan ibadah. Berbeda dengan umat-umat terdahulu yang hanya diperbolehkan melaksanakan ibadah di tempat-tempat tertentu, seperti gereja dan rumah-rumah ibadah mereka, Allah memberikan kemudahan kepada umat Islam dengan menjadikan seluruh bumi yang suci sebagai tempat untuk melaksanakan salat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَجُعِلَتْ لِيَ الأَرْضُ مَسَاجِدَ وَطَهُوراً، أَيْنَمَا أَدْرَكَتْنِي الصَّلاَةُ تَمَسَّحْتُ وَصَلَّيْتُ، وكَانَ مَنْ قَبْلِي يُعَظِّمُونَ ذَلِكَ، إنَّما كَانُوا يُصَلُّونَ فِي كَنَائِسِهِمْ وَبِيَعِهِمْ

“Seluruh bumi dijadikan bagiku sebagai tempat sujud (masjid) dan sebagai alat bersuci. Di mana saja waktu salat menjumpaiku, aku dapat bersuci lalu melaksanakan salat. Adapun umat-umat sebelumku, mereka hanya melaksanakan salat di gereja-gereja dan rumah-rumah ibadah mereka.” (HR. Ahmad dan dihasankan oleh Syekh Albani)

Demikian pula dalam hadis Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي) وذَكَرَ منها: (وَجُعِلَتْ لِيَ الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا؛ فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلاةُ فَلْيُصَلِّ

“Aku diberi lima perkara yang tidak diberikan kepada seorang pun sebelumku.” Di antara lima keistimewaan tersebut adalah, “Seluruh bumi dijadikan bagiku sebagai masjid dan sebagai alat bersuci. Maka, siapa saja dari umatku yang telah masuk waktu salat, hendaklah ia melaksanakan salat.” (Muttafaq ‘alaih)

Kedua hadis tersebut menunjukkan bahwa syariat Islam dibangun di atas prinsip kemudahan dan keseimbangan. Seorang muslim tidak dibebani untuk mencari tempat ibadah tertentu ketika waktu salat telah tiba. Selama tempat tersebut suci dan tidak terdapat larangan syariat untuk salat di sana, maka ia dapat melaksanakan salat. Kemudahan ini merupakan salah satu bentuk nyata dari wasathiyyah yang menjadi karakter syariat Islam.

Wasathiyyah dalam ibadah dengan berbagai aspeknya menjadikan Islam sebagai agama yang mudah diterima dan diamalkan. Syariat Islam menghilangkan kesulitan dan rasa jenuh dalam beribadah, sekaligus selaras dengan fitrah manusia yang menyukai kemudahan dan membenci sesuatu yang memberatkan serta dibuat-buat. Inilah salah satu bukti keagungan As-Sunah, yaitu kesesuaiannya dengan fitrah, karakter, dan tabiat manusia.

Keselarasan syariat dengan fitrah tersebut bukanlah hasil pemikiran manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang Nabi yang ummi, tidak dapat membaca maupun menulis, serta tidak mempelajari ilmu tentang kejiwaan atau tabiat manusia. Oleh karena itu, kesempurnaan ajaran Islam yang senantiasa sesuai dengan kebutuhan dan fitrah manusia merupakan bukti bahwa syariat ini berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, Zat Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui segala sesuatu.

[Bersambung]

KEMBALI KE BAGIAN 1

***

Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan

Artikel Muslim.or.id


Artikel asli: https://muslim.or.id/117396-sikap-pertengahan-dan-moderat-dalam-syariat-islam-bag-2.html